MENCEGAH UNDERACHIEVER PADA ANAK

Mencegah lebih baik daripada mengatasi. Itu sebabnya setiap orang tua sebaiknya menyadari perlunya untuk mencegah anak menjadi underachiever. Adapun  beberapa upaya yang bisa dilakukan, yaitu:

Terima anak apa adanya dan beri suport
Sejak dini, anak perlu sering-sering ditanggapi keluhannya, misalnya ketika ia meragukan kemampuannya, anda bisa mengatakan: "Insya Allah kamu bisa". Tekankan bahwa yang paling penting adalah berusaha semaksimal mungkin, gagal itu merupakan hal yang bukan tidak diperbolehkan tetapi pantang untuk berputus asa.

Bunda dan Ayah  juga perlu bersikap konsisten
Jangan menuntut anak di luar kemampuannya. Apapun prestasi anak, orangtua harus percaya kepada anak (bahwa ia mampu dan telah berusaha maksimal), menghargainya (bahwa ia telah berusaha, terlepas ia berhasil atau gagal, kehadiran anak tetap merupakan karunia bagi orangtua), dan mendengarkan apa yang disuarakan anak. Jangan sekali-kali berkata kasar atau melecehkan.

Target yang realistic sesuaikemampuan
Tetapkanlah target yang menurut perkiraan bunda dan ayah sesuai dengan anak. Jangan terlalu berlebihan berharap anak akan cepat mengatasi masalahnya. Semua itu harus melalui suatu proses.

Kuasai seni menuntut
Perhatikan kesiapan anak untuk mengerjakan tugas baru, sehingga dimungkinkan mereka dapat berprestasi optimal. Tugas yang terlalu mudah tidak akan menantang anak untuk menunjukkan kemampuannya. Sebaliknya kegagalan yang terus menerus (karena target terlalu tinggi) akan membunuh motivasi anak untuk berprestasi. Menetapkan target yang tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah merupakan seni tersendiri.

Belajar menunda kepuasan jangka pendek
Setelah anak berusia 5 tahun, ia mulai bisa mengenal target jangka panjang dan jangka pendek; serta mengenal kepuasan jangka panjang dan jangka pendek. Ajari dan dorong anak untuk menunda kepuasa-kepuasan jangka pendeknya demi mendapatkan kepuasan jangka panjang atau kepuasan yang lebih besar. Misalnya, "Yuk, kita menghapal Al-Qur’an ayat demi ayat, lalu surat demi surat, kalo sudah hapal beberapa surat pendek sholatmu bisa lebih khusyu’."

Ajari dan beri contoh untuk belajar aktif memecahkan masalah
Ajari anak bahwa rasa ingin tahu itu menggairahkan, mengajukan pertanyaan dan mencari jawabannya itu mengasyikkan, sehingga belajar itu kegiatan yang menyenangkan. Lontarkan saja pertenyaan pada diri sendiri, dan biarkan anak ikut mendengarkan dan terangsang rasa ingin tahunya, mengapa dan bagaimana cara kerja sesuatu.

Biasakan secara bersama mencari jawaban dari buku. Jadi secara tidak langsung anak mendapatkan bekal bagaimana caranya belajar aktif dan menyenangi kegiatan belajar. Motivasi belajar akan bangkit dan terpelihara dalam dirinya karena anak merasakan sendiri manfaatnya.

Beri ‘imbalan’ bila anak menunjukkan prestasi besar
Penelitian terakhir menunjukkan bahwa prestasi akademik dan kepribadian yang positif (misalnya konsep diri yang positif, merasa berfungsi secara efektif) terkait erat dengan kondisi rumah. Anak yang selalu dihargai karena prestasinya umumnya akan lebih termotivasi untuk berprestasi. Anak underachever biasanya kurang memiliki tanggungjawab atas dirinya sendiri, termasuk prestasinya.

Sistem imbalan akan membantu membangkitkan rasa tanggung jawab ini. Tugas orangtua adalah menemukan imbalan apa yang efektif bagi anak. Ada yang senag dengan pujian tetapi ada yang pada awalnya memerlukan imbalan yang lebih konkret, misalnya tambahan pensil baru, meja belajar baru atau sekedar ciuman di pipi.

TEACHING WITH LOVE

 

Pendekatan cinta dalam pembelajaran merupakan bentuk perwujudan perhatian dan kasih sayang dari seorang guru dan orang tua dalam memberikan contoh yang baik dalam perilaku-perilaku sehari-hari dengan berbagai pendekatan akhlak mulia.  Dengan pendekatan cinta dan akhlak mulia berarti pembelajaran tidak hanya menekankan intelektual semata melainkan akan memberikan sentuhan khusus pada anak secara pribadi baik untuk peningkatan spiritual, emosional dan kepribadian lainnya seperti etika, sopan santun, toleransi, saling menghargai tanggung jawab dan kepedulian terhadap lingkungan.  Seorang guru ataupun orang tua dalam memberikan pembelajaran tidak hanya memberikan konsep pengetahuan secara teoritik melainkan juga memberikan contoh bagi anak-anaknya.

Mendidik dengan suasana cinta
Mendidik berarti memberikan, dalam konteks ini memberi berarti mendidik dan mengasuh anak. Memberikan hati, cinta dan kasih sayang berarti mendidik dan mengasuh anak dengan hati, cinta dan kasih sayang. Diantara yang dimaksud dengan mendidik atau ‘memberi’ dengan suasana cinta adalah sikap-sikap utama seperti berikut ini;

1.     Tersenyumlah pada mereka

Anak-anak atau siswa lebih menyukai wajah yang tersenyum ceria ketimbang wajah yang serem atau galak.  Jika anda tersenyum pada murid anda insyaAlloh dia akan memberikan cinta 100 kalinya sebagai pembalasan senyum itu.

Lihat dunk gambar teacher dibawah ini…. lebaaaar senyumnya hingga nyaris membelah mukanya…. so, muridnya juga jadi senyum dan semangat untuk sekolah ( eh tapi ada 1 anak sich yang masih cemberut….. wajar dech…)


Senyum dari guru atau orang tua akan tersimpan dalam memori anak yang paling dalam. Memori tersebut akan melejitkan potensi anak. Senyum adalah multivitamin yang akan mampu menggairahkan kejiwaan anak. Senyum tulus guru akan mampu membuat anak merasa dihargai dan disayangi.

Jika anda tersenyum artinya saat tersenyum anda tidak mempunyai beban yang berat sehingga orang yang mendapat senyum anda akan merasakan ringan hidupnya. Bahkan ada hadist Rasulullah SAW : “ Senyummu kepada saudaramu adalah sedekah”… wow… keren kan…. apa yang kita lakukan amat sangat berguna dan bermanfaat bahkan mempunyai dasar yang sangat jelas.

2.            Curilah perhatian mereka

Mencuri perhatian bukanlah hal yang mudah. Orang tua maupun guru harus melakukan seribu aksi agar anak dan muridnya memperhatikan. Tentu saja aksi tersebut tidak dengan cara mengancam maupun berteriak-teriak. Senyum, sorot tulus dan jangkauan kasih sayang guru akan membawa anak kedalam dunia yang nyaman.

Guru langsung membenamkan diri dalam suasana anak secara alami, kita sebagai guru atau orang tua membawa kita kedalam dunia mereka dan menarik mereka kedalam duniakita, itu loch yang sering-sering disebut sebagai Quantum Learning.   Pendekatan ada bermacam cara, model dan macam. Jangan pernah merasa putus asa jika gagal melakukan dengan pendekatan tertentu.

Coba, coba dan terus coba sambil senantiasa berdoa mohon kepada Alloh SWT atas usaha yang sedang kita lakukan.…. ikhtiar dan doa itu itu bisa sebagai pengubah takdir lho! Teman-temanku,  berbuatlah sesuatu ciptakan amaliyah untuk mengubah takdir kita. Selama pagi menjelang, kita masih akan menemui kejutan-kejutan siang. “ Berbuatlah ( dan bergeraklah ) karena Allah, Rasul, dan Orang-orang beriman akan menjadi saksi atas perbuatan kita. (Q.S At-Taubah : 105). “ Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan apapun yang telah kit lakukan. Kecuali selalu ada nilai di hadapan-Nya.” (Q.S Ali Imran : 191).


3.    Bersahabatlah dengan mereka

Anak dan siswa tidak bisa kita jadikan sebagai obyek pendidikan. Kehadiran mereka adalah sebagai sahabat. Untuk saat-saat tertentu, perankanlah diri anda sebagai teman sebaya mereka. Sehingga anak akan bebas berekpresi tanpa dibatasi image orang tua dan guru.  Ingat cinta itu bukan paksaan.  Cinta itu lahir dari perasaan. kehadirannya tidak diundang, tetapi kepergiannya tiada yang sudi merelakan… 
(cinta itu jauh berbeda dengan jalangkung yang datang tak diundang, pulang tak diantar, biarin aja wong bisa pulang sendiri)

Bersahabatlah dengan siswa secara tulus, InsyaAlloh sepanjang hidupnya siswa akan selalu tulus kepada guru yang menjadi sahabatnya.

Semua yang disebutkan diatas, adalah sebuah hikmah untuk kita bahwa, mengajar dengan cinta adalah sesuatu yang indah dan menyenangkan. QS An Nahl 125 : “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya. Dan dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjukknya.”

Rasulullah juga mengajarkan,”Hormatilah anak-anakmu dan didiklah mereka. Terimalah usahanya meskipun kecil, maafkanlah kekeliruannya, tidak membebani dengan beban yang berat, dan tidak pula memakinya dengan makian yang dapat melukai 

A happy family is an earlier heaven. Home or school is our children’s heaven… Let’s us teach them with love…. Make them feel comfort wherever they stay….

Teman-temanku!cinta dan kasih sayang biasanya baru terasa ketika hilang. Mungkin dengan apa yang saya ungkapkan hari ini, sebagai seorang ayah, ibu, guru, yuk, kita temukan kembali hati, cinta dan kasih sayang dalam keluarga dan sekolah kita.

PERAN ORANG TUA DALAM PENDIDIKAN ANAK

Dunia pendidikan tak luput dari paradoks, yang berarti pujian semu. Kata paradoks berasal dari kata Bahasa Yunani paradoxon;  para berarti semu dan doxon atau doxa berarti pujian, kemuliaan.    Pendidikan dipuja-puji sebagai solusi terhadap masalah kemiskinan, keterbelakangan, kebodohan, diskriminasi, ketidakadilan, perkosaan terhadap martabat manusia, kesewenang-wenangan, kebohongan, dan konflik sosial. Pendidikan pun seringkali diharapkan dapat bemilai sebagai proses 'pembelajaran'sekaligus sebagai 'pemberdayaan' kemampuan (ability) dan kesanggupan (capability) peserta didiknya.

Namun pada kenyataannya yang sampai kini terjadi adalah proses pendidikan di negeri ini seringkali justru menjadi sebuah beban bagi peserta didiknya selain melalui muatan-muatan kurikulumnya. Juga melalui pendekatannya yang cenderung bersifat satu arah dan mengutamakan adanya 'pemaksaan' keyakinan.

Melalui proses pendidikan seringkali peserta didik dijadikan obyek dari sebuah proses tranfer pengetahuan dengan menghafal muatan-muatan pelajaran yang sangat padat. Pendekatan yang digunakan dalam proses pendidikan pun lebih menempatkan guru sebagai obyek dan peserta didik sebagai obyek. Pun proses yang terjadi seringkali tidak memungkinkan adanya komunikasi dua arah yang sebenamya antara guru dan peserta didiknya.

Tentu ada banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan sebuah pendidikan. Dan salah satu kunci dalam pendidikan ialah peranan orang tua. Sebenarnya kalau kita melihat keterlibatan orang tua sampai saat ini masih sangat kurang. Terutama orang tua yang di kota, yang sibuk dengan aktivitas di kantor. Sehingga terlihat sekali bahwa anak tersebut seolah-olah itu semua tanggung jawab guru.

Padahal orang tua juga harus terlibat di dalam hal itu. Karena anak tersebut tidak hanya bisa dikreatifkan selama di sekolah saja. Anak tidak akan bisa kreatif kalau tidak ada pantauan secara langsung dari orang tuanya.

Keterkaitan orang tua dalam hal ini sangat penting. Apalagi kalau dilihat dalam proses belajar mengajar. Ada pekerjaan rumah yang tidak bisa dijawab, harusnya orang tua juga kreatif mencari dari buku yang lain. Atau membimbing anak mencarikan hal- hal yang lain sehingga dia merasa bahwa orang tuanya tidak sekadar memberikan uang jajan atau menyekolahkan dia. Tetapi juga ikut meningkatkan kreativitas atau meningkatkan pendidikan.

Dengan kata lain, dalam penggunaan pendidikan maka semua pihak terlibat. Dan oleh karenanya, baik guru, siswa, maupun orang tua mesti kreatif.

Selama ini sebagian orang berpikir bahwa pendidikan itu hanya merupakan tanggung jawab sekolah. Oleh sebab itu, ketika orang tua memasukan anaknya ke sekolah, mereka seolah-olah berpikir bahwa masalah telah selesai. Padahal mereka lupa bahwa orang tua merupakan bagian yang tak terpisahkan dari keberhasilan pendidikan itu sendiri.

Dalam Undang-Undang Nomor: 23 TAHUN 2002 tentang: Perlindungan Anak Bab IV tentang Kewajiban dan Tangung Jawab, khususnya bagian keempat tentang kewajiban dan Tanggung Jawab Keluarga dan Orang Tua, pada pasal Pasal 26 disebutkan bahwa

(l) Orang tua berkewajiban dan bertanggung jawab untuk:

a. mengasuh, memelihara, mendidik, dan melindungi anak;
b. menumbuhkembangkan anak sesuai dengan kemampuan, bakat, dan minatnya; dan
c. mencegah terjadinya perkawinan pada usia anak-anak.

Dari sini nampak bahwa negara memberi peran kepada orang tua agar sungguh -sungguh menunjukan perhatian kepada anak, termasuk dalam masalah pendidikan. Olehnya, jika orang tua mengabaikan hal tersebut, maka mereka dapat dikenakan sanksi dan hukuman sesuai peraturan yang berlaku.

Beberapa peneliti mencatat bahwa keterlibatan orang tua dalam pendidikan anak di sekolah berpengaruh positif pada hal-hal berikut yakni;

(l) Membantu penumbuhan rasa percaya diri dan penghargaan pada diri sendiri.
(2) Meningkatkan capaian prestasi akademik,
(3) Meningkatkan hubungan orang tua-anak,
(4) Membantu orang tua bersikap positif terhadap sekolah, dan
(6) Menjadikan orang tua memiliki pemahaman yang lebih baik terhadap proses pembelajaran di sekolah.

Pada sisi lain, untuk mendorong keterlibatan orang tua dalam pendidikan anak, maka pihak sekolah dapat menyiapkan beberapa metoda untuk dapat melibatkan orang tua pada pendidikan anak. Diantaranya dengan: acara pertemuan guru-orang tua, komunikasi tertulis guru-orang tua, meminta orang tua memeriksa dan menandatangani PR, mendukung tumbuhnya forum orang tua murid yang aktif diikuti para orang tua.

Selain itu kegiatan rumah yang melibatkan orang tua dengan anak dikombinasikan dengan kunjungan guru ke rumah. Terus membuka hubungan komunikasi (telepon, sms, e-mail, portal interaktif dll) serta dorongan agar orang tua aktif berkomunikasi dengan anak.

Selain itu, di antara teori pendidikan menyebutkan sebuah paradigma tripartite (tiga pusat pendidikan), yang menempatkan sekolah, keluarga dan masyarakat sebagai tiga elemen yang tidak terpisahkan dalam proses pendidikan.Dari ketiga elemen tripartite itu, keluarga merupakan fokus utama yang harus mendapat perhatian lebih, karena anak lebih banyak berada di rumah.

Pendidikan anak pada hakikatnya adalah tanggung jawab para orang tua. Oleh karena itu keterlibatan orang tua dalam mendukung sukses anak menuntut ilmu di sekolah merupakan kewajiban. Untuk menjadi pendidik yang baik, orang tua mesti menghiasi dirinya dengan keteladanan. Sebagai contoh dapat diingat semboyan; tut wuri handayani.

Peran penting orang tua adalah membangun dan menyempurnakan kepribadian dan moral anak. Untuk itu perlu sikap-sikap orang tua sebagai pendidik yang sabar, lembut, dan kasih sayang. Dengan berbuat demikian, diharapkan akan tampil anak - anak yang cerdas dan berkualitas baik secara jasmaniah maupun rohaniah.

Agar semua ideal tersebut dapat terwujud, maka peran orang tua mesti ditampilkan secara optimal. Orang tua mesti membangun kerjasama dengan pihak sekolah, demikian sebaliknya, sehingga dari kerjasama tersebut anak mendapat ruang yang cukup luas untuk mengembangkan dirinya.

Akhirnya dapat disimpulkan bahwa pendidikan yang berhasil, bukan saja karena keaktifan anak sebagai peserta didik, tetapi para pendidik, sarana prasarana, dukungan pemerintah melalui kebijakan dan peraturan, maupun peran orang tua merupakan elemen-elemen yang saling menopang dan melengkapi dalam keberhasilan pendidikan itu sendiri.

MEMOTIVASI BELAJAR ANAK (KELAS 1 – 3 SD)


“Duuuuh tobat…. Gimana caranya ya agar Andhif mau belajar tanpa disuruh?”
“Grrrrrrrr…..!” (lho kok menggeram….. kayak…..xixixixi)
“Ya ampyuuuun…. Masih nonton TV juga…. Kapan belajarnya? Besok ulangan…..!” (*murka.com)
Mungkin kita sering sekali mengucapkan kalimat-kalimat yang bunyinya berbeda tapi intinya sama= anak kita susaaaaaaaah sekali disuruh belajar!
Mmmmmh… kenapa ya?
“Anak saya ini nggak punya motivasi belajar!”
“Motivasi belajarnya kurang!”
“Belum mempunyai motivasi untuk maju!”
Motivasi, motivasi, motivasi. Apa sih sebenarnya motivasi itu?

Dalam kamus praktis ilmiah populer dijelaskan bahwa motivasi adalah dorongan (dengan sokongan moril), alasan, tujuan tindakan. Motivasi merupakan perilaku yang ditujukan kepada sasaran. Motivasi berkaitan dengan tingkat usaha yang dilakukan oleh seseorang dalam mengejar suatu tujuan yang berkaitan erat dengan kepuasan pekerja.

Sedangkan pengertian motivasi menurut Sumadi Suryabrata adalah suatu keadaan yang terdapat dalam diri seseorang yang mendorongnya untuk melakukan aktivitas tertentu guna suatu pencapaian tujuan.

Jadi? Ya sesungguhnya semua manusia mempunyai motivasi untuk mendapatkan hasil tertentu. Hanya saja untuk anak-anak kadang kadang motivasi harus dibangkitkan terlebih dahulu.... terutama untukmotivasi belajar.

Mengapa? Karena pada hakekatnya pada usia tertentu anak masih mempunyai kecenderungan bermain lebih banyak dari pada belajar. Sudah menjadi kodrat.

Tapi, tentu saja dengan tuntutan jaman yang membuat orang harus mempertinggi daya  juang untuk mencapai prestasi. Kita sebagai orang tua juga tidak boleh berleha-leha dan akhirnya menjadi lengah dalam memotivasi anak.

Memotivasi anak untuk belajar berbeda-beda menurut usianya. Di tingkat SD,   ada pengelompokkan dalam dua kategori, yaitu:

1.    Kelas rendah (kelas 1-3 SD)
2.    Kelas atas (kelas 4-6 SD), masing masing kelompok memiliki karakter dan cirri-ciri yang berbeda.

Klas 1-3 SD
Anak-anak di kelas bawah masih memasuki masa transisi dari taman kanak-kanak yang aktivitas belajarnya dilakukan sambil bermain ke jenjang sekolah dasar yang lebih formal. Kondisi ini ,menuntut mereka  untuk banyak berada dalam dalam kelas dan duduk tenang memperhatikan penjelasan guru serta mengerjakan tugas-tugas.

“Bisa ngga sih ?? “ tanya seorang Ibu
“ Bisa saja sih”, jawab saya

Tapi tuntutan tersebut tentu saja menyulitkan karena sebenarnya murid-murid kelas rendah masih dalam usia bermain. Sayang seribu sayang dengan alasan tuntutan masa sekarang dalam meraih prestai,  banyak orang tua, bahkan guru, melupakan ciri khas usia ini.

“Anak kelas 1-3   belum bisa diharapkan duduk lama karena rentang perhatiannya maksimal sekitar 15-25 menit sajauntuk kemudian beralih ke lain topik. Jadi sebetulnya bila dikelas ada anak yang kerjanya “bersilaturahmi” mengunjungi bangku kawannya “arisan dikelompok lain”  sebetulnya mereka bukan nakal kalau enggak bisa diam di kelas itu sudah menjadi kecenderungan mereka.

“Lha terus gimana dunk? Khan ngga bisa kita terpaku pada kodrat saja. Gimana cara memotivasi anak tanpa melupakan kodrat dan juga hak mereka sebagai anak-anak?”tanya seorang orang tua murid.

Yah kita sebagai orang tua, guru, musti bisa memotivasi anak kita agar mau belajar

Caranya?

Berkaitan dengan masa transisi ini pula, seperti  orang tua mesti peka. Pahamilah bahwa perubahan-perubahan dari TK ke SD sering membuat murid kelas rendah “ketakutan”.
agar anak dapat melalui masa transisinya dengan mulus, orang tua dapat membantu dengan memberikan motivasi belajar yang pas menurut ciri khas anak usia kelas 1-3 SD atau kurang lebih 6-8 tahun. Inilah pokok-pokoknya:

Belajar sambil bermain
Pada prinsipnya hampir sama dengan  cara belajar anak TK. Namun untuk anak SD alihkan ke cara bermain yang lebih membangun. “Tolong ambilkan Ayah 5 kue, dong. Nah, di tangan adek sudah ada 1 kue. Jadi,ayah sekarang punya berapa kue??

Suasana belajar pun tak perlu harus serius. Jadi tak selalu harus belajar di  meja belajar, bisa juga sambil duduk di karpet.

Manfaatkan PR
 Sampai saat ini Pekerjaan Rumah (PR) untuk murid kelas rendah masih menjadi pro-kontra. Namun selama tidak berlebihan, sebenarnya PR sangat banyak memberi manfaat. Salah satunya untuk mengulang sedikit pelajaran yang sudah didapat anak di sekolah juga membuat Ayah dan Bunda tahu sampai dimana Ananda menerima pelajaran (sssst…… ini mah hanya berlaku bagi ayah dan bunda yang selalu menyempatkan diri sesibuk apapun untuk senantiasa mengikuti apa saja yang dilakukan ananda  J).  

Masalah timbul kalau anak sering dijejali PR. Inilah yang sering menjadi beban bagi anak. Kalau pun kejadiannya seperti ini, libatkan diri Ayah dan Bunda saat ananda belajar dan mengerjakan PR . Tapi bukan ayah dan bunda yang memberi  jawaban.

SUPPORT lah selalu malaikat kecil kita
Support/ dukungan  sangat  diperlukan, terutama saat anak menghadapi masa-masa sulit di sekolah. Bentuknya bisa sangat sederhana, tapi harus manis. Misalnya ketika anak memperoleh nilai buruk, kita tidak marah yang berkepanjangan dan memvonis anak kita sebagai anak bodoh.  tolol dan lainnya

Lebih baik, luangkan waktu untuk mendiskusikan masalah tersebut dengan anak. “Sebagai awal, orang tua perlu mencari tahu perasaan anak ketika memperoleh nilai 50. Apakah ia kecewa, sedih atau biasa-biasa saja, karena jangan-jangan ia tidak mengerti bahwa nilai 50 itu berarti kurang.” Lalu tetaplah beri dukungan. “Untuk hari ini enggak apa-apa dapat 50. Kamu bisa dapat nilai yang lebih baik di ulangan berikutnya, tapi kamu harus belajar.”

Jadilah model  
Ini berarti orang tua jangan sampai terlihat santai saat anak sedang belajar. “Misalnya, ketika sedang mengerjakan PR anak melihat ibunya menonton televisi dan ayahnya tidur. Bisa-bisa anak merasa diperlakukan tidak adil. ‘Ih, ayah, kok, bisa tidur sedangkan aku harus belajar?" Akan lebih baik bila saat anak belajar, orang tua juga tampak “belajar”, seperti menemani anak sambil membaca koran atau buku. Dengan begitu anak akan mendapat panutan.

Tetapkan jam belajar
Misalnya, dari jam 5 sampai 7 disepakati sebagai jadwal belajar anak. Namun, jadwal harus dibuat dengan mempertimbangkan jam sekolahnya. Berilah ia waktu untuk berisitirahat sebelum waktu belajar. Saat waktunya belajar, anak harus diberi pengertian bahwa rentang waktu itu harus diisi hanya untuk kegiatan belajar. Artinya ia tidak nonton teve, tidak mendengarkan radio, atau tidak bermain playstation


KRITERIA UNDERACHIEVER

Underachiver banyak dialami oleh siswa berbakat akademik. Mereka menunjukan prestasi yang tidak sesuai dengan tingkat (IQ) yang sebenarnya.

Pengklasifikasian IQ dalam penelitian ini berdasarkan pada tes intelegensi ”Wechsler Intelligence Scale for Children” yang sering dikenal tes intelegensi WISC. Tes intelegensi ini merupakan perkembangan dari tes integensi ”Wechsler Bellevue Intelligence Scale yang diciptakan David Wechsler pada tahun 1939. Distribusi IQ yang gunakan dapat dilihat pada tabel 1.

Tabel 1 Distribusi IQ
IQ
KLASIFIKASI
> 130
Sangat Superior
120 – 129
Superior
110 – 119
Rata-rata Tinggi
90 – 109
Rata-rata
80 – 89
Rata-rata Rendah
70 – 79
Batas Lemah Mental
≤ 69
Lemah Mental

Berdasarkan penilaian sistem belajar tuntas, maka siswa dikatakan lulus jika memperoleh nilai 6 pada skala 0-10 atau 60 pada skala 0-100. Siswa berbakat akademik seharusnya tidak cukup hanya memperoleh nilai minimal kelulusan. Mereka hendaknya mampu berprestasi sesuai dengan tingkat IQ yang tinggi. Penulis membandingkan prestasi siswa dengan hasil tes IQ untuk mengidentifikasi underachiever. Batasan yang digunakan penulis terangkum pada tabel 2 berikut ini:

Tabel 2 Pedoman Pengkategorian Underachiever
NO
IQ
KLASIFIKASI
PRESTASI MINIMAL
1
> 130
Sangat Superior
9
2
120 – 129
Superior
8
3
110 – 119
Rata-rata Tinggi
7
4
90 – 109
Rata-rata
6
5
80 – 89
Rata-rata Rendah

6
70 – 79
Batas Lemah Mental

7
≤ 69
Lemah Mental


Seseorang yang mengalami underachievement pada umumnya menunjukan karakteristik yang berbeda dengan lainnya. Berikut ini merupakan penjelasan mengenai karakteristik underachiever.

Ada beberapa karakeristik yang ditunjukan siswa underachiever, yaitu sebagai berikut:
(1) Menunjukan prestasi yang berlawanan dengan harapan atau potensi yang dimilikinya.

(2) Merasa tidak senang dengan sekolah atau gurunya dan cenderung bergabung dengan teman yang juga memiliki sikap negatif terhadap sekolah.

(3) Kurang termotivasi untuk belajar, tidak mengerjakan tugas, sering mengantuk ketika belajar dan tidak tuntas dalam mengerjakan tugas.

(4) Kurang mampu melakukan penyesuaian intelektual.

(5) Merasa kurang bersemangat, kurang tegas dan sering ribut di kelas.

(6) Memiliki disiplin yang rendah, sering telat sekolah, enggan mengerjakan tugas, sering ribut, dan mudah terpengaruh.

(7) Tidak memiliki hobi atau minat terhadap kegiatan untuk mengisi waktu luang.

(8) Takut ujian dan berprestasi rendah.

Berdasarkan beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa kriteria utama dari underachiever yaitu adanya kesenjangan antara prestasi dengan kemampuan IQ. Prestasi belajar yang diperoleh secara nyata berada di bawah standar minimal yang seharusnya dicapai dengan tingkat IQ tertentu.

Selain itu underachiever menunjukan karakter pribadi yang cenderung perfectionis, terlalu sensitif, kurang percaya diri, dan kurang berminat terhadap aktifitas sosial. Underachiever lebih senang melakukan kegiatan sendiri daripada berkelompok. 

Berkaitan dengan kegiatannya di sekolah, underachiever menunjukan sikap negatif terhadap kegiatan sekolah. Kurang konsentrasi ketika belajar, menghindari pekerjaan sekolah, disiplin rendah, dan kurang berminat dengan kegiatan yang diselenggarakan sekolah merupakan beberapa karakteristik underachiever jika dilihat dari sudut pandang sekolah.